Mundur dari ASN, Seniman Miniatur ini Raih Puluhan Juta Setiap Bulan

                                                                                                                                                                        ilustrasi

Sahabatrakyat.com, Medan * Jiwa seniman memang sudah melekat dalam diri Eko Prayetno. Lelaki kelahiran 1982 itu, memutuskan karirnya menjadi penggiat seni ketimbang Aparatur Sipil Negara (ASN).

Bang Eko orang sering menyebutnya. Saat ditemui di kediaman di Jalan Pasar lll, Gang tunggal, Kecamatan Medan Perjuangan, Kota Medan, Sumatera Utara. Eko menceritakan kisahnya.

Eko Prayetno ternyata mantan ASN pada 2004 silam. Dia mogok mengabdi negara di tahun 2008. Dan saat itu, ia belum menjadi pengerajin miniatur, melainkan lanjut kerja sebagai karyawan disalah satu kebun dan sempat juga bekerja di bank.

Tahun 2014, Eko mengambil langkah pasti. Meyakini dan memutuskan bahwa menjadi seorang seniman miniatur akan membawa dirinya menjadi lebih baik dan berguna bagi sesama.

Langkah awal dari keputusannya, Eko memulainya dengan membuat miniatur dari bahan bekas. Dibalik komitmennya menjadi seorang seni, Eko seharusnya mendapat semangat, namun sebaliknya. Eko memperoleh terpaan berupa hinaan hingga guyonan dari orang-orang.

Saat itu, Eko tak ambil hati. Menurutnya bahwa perjuangan memang harus pahit terlebih dahulu. Penuh aral terjal dan hinaan.

Lambat laun, ia terus melakukan seperti apa yang dia inginkan. Membuat miniatur yang lebih baik agar orang lain bisa melirik.

Setelah beberapa bulan, tak disangka, hasil karyanya melejit. Permintaan meningkat. Baik dari kota Medan sendiri maupun luar kota. Dan karya Eko juga sering di beli oleh pemerintah kota Medan dan pemerintah daerah lain. Bentuk yang serupa dan rapi membuat pembeli tak ragu mengeluarkan uang banyak untuk mendapatkan karya Eko sebagai koleksi di rumah.

Akibat kerja kerasnya, kini Eko berpenghasilan puluhan juta perbulan dan kini Eko tenar di dunia seniman miniatur. Karya-karyanya berkualitas dan bernilai tinggi.

“Dalam setiap bulan belakangan ini omset juga terus meningkat sehingga ada sekitar jutaan setiap bulannya,” kata Eko, Sabtu (30/7/2022).

Untuk harga miniaturnya sendiri dari 150 ribu hingga 50 juta persatuan. Tergantung ukuran dan kesulitannya. Salah satunya miniatur becak Medan menjadi paling laris dari miniatur lainnya.

Menurut Eko, becak Medan menjadi simbol bahwa ibu kota Sumatera Utara dikenal dengan banyaknya becak. Baik becak dayung dan becak motor. Keduanya memang sudah ada sejak jaman kerajaan Melayu Deli.

Selain, menghasilkan omzet yang banyak, Eko juga sering diminta untuk menjadi guru privat miniatur, namun dirinya menolak karena bakal akan terbuang waktunya.

Tak hanya itu, Eko juga sering diundang oleh pemerintah pusat dan daerah sebagai pemateri terkait ilmu seniman miniatur yang dia buat.